MASALAH IBU KOTA “MACET”

Filed under: Manado |

CowoSudah bukan hal asing lagi bagi orang Manado mendengar kata macet dan bahkan merasakan sendiri kemacetan itu seperti apa. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa kendaraan bermotor sudah menjadi salah satu kebutuhan masyarakat saat ini karena dapat mempermudah masyarakat beraktivitas  jika ingin bepergian dari satu tempat ke tempat lain, terlebih mobil yang sangat membantu jika terjadi hujan. Kemacetan sendiri merupakan situasi tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan yang melebihi kapasitas jalan (wikipedia.org) atau istilah yang biasanya orang Manado katakan “macet itu beking lalah, beking terlambat, beking kram blakang deng kram panta, beking abis waktu, dll.”

Semakin meningkatnya jumlah kendaraan merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya kemacetan. Seperti halnya yang terjadi di Kota Manado dimana tidak sedikit masyarakat yang mulai “berlomba-lomba” untuk membeli kendaraan baik karena kebutuhan sehari-hari, usaha (taxi online, angkutan, ojek, rental, dll) dan ada yang karena hobi saja. Selain karena ada peningkatan kendaran, faktor lain yang menjadi penyebab terjadinya kemacetan adalah parkir sembarangan. Masih banyak pemilik-pemilik kendaraan yang parkir sembarangan. Padahal sudah ada aturan-aturan dan tata tertib yang jelas dan dibuat dengan baik oleh para petugas. Tapi apa yang terjadi? Masih banyak pengendara yang tidak taat aturan. Apakah karena mereka tidak bisa membaca? Apakah karena mereka tidak mengerti apa arti dari simbol-simbol yang sudah tertata di jalan-jalan? Dan lebih parahnya lagi ada orang yang “so kapling-kapling jalan for tampa parkir” karena tidak memiliki tempat parkir dan ada yang melanggar aturan hanya untuk menunjukkan kehebatan “stel jago” kepada orang-orang “lia pa kita, parkir sini padahal ada tanda larangan” agar supaya diakui oleh orang-orang. Hey tayooo, tidak pantas mencari ketenaran dengan cara seperti itu.

Kemudian, yang menjadi perhatian saya akhir-ahir ini dan menurut saya menjadi salah satu faktor sehingga terjadinya kemacetan yaitu sudah semakin banyak kendaraan-kendaraan bermotor dari luar yang masuk. Maksudnya, orang dari pulau seberang yang datang ke Manado dan menetap di Manado baik karena pekerjaan atau karena hal lain membawa serta segala kepunyaan mereka ke Manado bahkan motor dan mobil pun turut dibawa. Oleh karena itu, akhir-akhir ini saya melihat cukup banyak kendaraan bermotor dengan plat nomor dari luar Sulawesi Utara. Bukannya melarang, tetapi itu hanya pandangan dari saya.

Dari semua penjelasan di atas, muncul beberapa pertanyaan. Pertama, siapa yang harus dipersalahkan? Jelas kita tidak dapat menyalahkan “Si Macet” karena dia hanyalah istilah dari salah satu masalah di lalu litas. Apa yang harus dilakukan? Ada banyak cara dan strategi yang dapat dilakukan. Tapi, saat ini ada 4 (empat) cara/strategi alternatif yang menurut saya dapat mengurangi atau mungkin bisa mengatasi kemacetan yaitu,

  1. MEMPERTEGAS ATURAN DAN TATA TERTIB DALAM LALU LINTAS (Parkir Sembarangan). Masih ada banyak pengendara kendaraan bermotor yang melanggar aturan ini, dimana kendaraan sering diparkir sembarangan. Hal ini menyebabkan sempitnya jalan sehingga menghambat kelancaran lalu lintas dan tentunya menyebabkan kemacetan. Dengan mempertegas aturan dan tata tertib yang ada maka diharapkan dapat mengurangi terjadinya kemacetan. Beberapa cara untuk mempertegas aturan ini misalkan, para petugas yang bertugas melakukan penjagaan agar dapat melarang masyarakat parkir di daerah yang dilarang, adanya tilang dan memberikan sanksi yang seefisien mungkin sehingga menimbulkan efek jerah kepada pihak yang melanggar dan juga meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kepatuhan hukum.
  2. TEMPAT USAHA YANG BERADA DI SEKITAR JALAN UTAMA DIUSAHAKAN DAN JIKA MEMUNGKINKAN DIWAJIBKAN HARUS MENYEDIAKAN TEMPAT PARKIR. Supermarket ataupun tempat usaha lainnya berupa tempat makan yang berada disekitaran jalan utama harus menyediakan tempat parkir. Masyarakat Manado terkenal dengan tingkat keinginan makan yang tinggi sehingga ada banyak pengunjung disetiap tempat makan dan kebanyakan dari para pengunjung membawa kendaraan. Oleh karena itu, mungkin dapat dibuatkan aturan dimana pihak restoran atau pun supermarket diusahakan dan jika memungkinkan wajib menyediakan tempat parkir masing-masing terlebih yang berada di jalan utama baik dengan cara membongkar sebagian rumah makan atau supermarket atau dengan cara yang lain, karena jika selalu berharap dan berpikir bahwa jalan sebagai alternatif untuk parkir maka kemacetan pun akan selalu terjadi dan tidak dapat dihindari. Maksudnya, agar supaya setiap pengunjung yang membawa kendaraan dapat parkir kendaraan mereka ditempat yang telah disediakan. Jika tidak disediakan otomatis para pengunjung akan parkir kendaraan dipinggir jalan utama sehingga menyebabkan kemacetan.
  3. PENGADAAN PAJAK TAMBAHAN ATAU BAYARAN YANG LEBIH UNTUK KENDARAAN DENGAN PLAT NOMOR DARI LUAR SULAWESI UTARA. Manado merupakan Ibukota Provinsi Sulawesi Utara dimana banyak masyarakat yang sering datang dipusat kota baik dari Sulawesi Utara maupun dari luar Sulawesi Utara sehingga menyebabkan peningkatan pengguna kendaraan. Adanya peningkatan kendaraan dapat memperpadat pengguna jalan raya sehingga dapat menyebabkan terjadinya kemacetan. Oleh karena itu, dapat dibuatkan aturan baru dengan cara mengadakan pajak atau membayar misalkan iuran untuk kendaraan dari luar Sulawesi Utara. Bukannya melarang membawa kendaraan dari luar bagi mereka yang datang dari luar dan ingin menetap di Kota Manado, tapi sebagai salah satu cara saja untuk mengatasi kemacetan di Manado di mana minimal mereka akan berpikir untuk tidak membawa kendaraan mereka karena ada banyak uang yang harus dikeluarkan.
  4. MENYEDIAKAN ANGKUTAN UMUM YANG LAYAK. Mikro sudah merupakan ciri khas angkutan umum di Kota Manado dan banyak masyarakat yang menjadi pengguna. Angkutan umum yang layak baik kondisi mesin dan design interior dari mobil tersebut dapat memberikan kenyamanan pada pengguna sehingga dapat meningkatkan demand angkutan umum tersebut. Hal yang perlu diperhatikan selain kondisi dari kendaraan yaitu attitude dan kesopanan berpakaian dari sopir. Sopir yang berpakaian layak dan bersikap ramah akan memberikan rasa nyaman dan aman serta meningkatkan kepuasan konsumen. Mungkin juga, pemerintah bisa melakukan kerja sama dengan para angkutan umum untuk hal-hal seperti itu, , seperti halnya yang terjadi saat ini di Jakarta. Dengan demikian, para pemilik kendaraan tidak lagi membawa kendaraan mereka tetapi akan menggunakan jasa angkutan umum, sehingga penggunaan kendaraan lebih sedikit dan akibatnya kemacetan akan sedikit teratasi.

Junior Meloh Jurusan Akuntansi Universitas Katolik De La Salle Manado

You must be logged in to post a comment Login