Alternatif Di Tengah Krisis Ekonomi Turun-nya Harga Kopra Di Sulawesi Utara

Filed under: Berita Utama,General News |

WaasSebagai salah satu daerah penghasil kelapa terbesar di Indonesia, Sulawesi Utara dikenal dengan sebutan bumi nyiur melambai. Hal ini dapat dilihat dari jumlah pohon kelapa yang tumbuh dan bisa kita temukan di mana saja di daerah Sulawesi Utara. Banyaknya pohon kelapa di bumi nyiur melambai menjadikan masyarakat menggunakan kelapa untuk memenuhi kebutuhan hidup, hal ini juga bisa kita lihat dalam lambang Sulawesi Utara yang terdapat 1 buah pohon kelapa yang memiliki arti bahwa pohon kelapa merupakan tumbuhan utama yang menjadi andalan perekonomian Sulawesi Utara. Seperti yang kita ketahui bahwa hampir semua bagian dari pohon kelapa bisa kita gunakan, namun yang menjadi fokus utama sebagai sumber penghasilan terbesar dari pohon kelapa merupakan buah kelapa yang sudah tua yang akan dijadikan kopra kemudian dijual oleh para petani Sulawesi Utara untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.

Proses pembuatan kopra tentunya memakan waktu dan tenaga yang tidak sedikit, didalamnya terdapat pengorbanan seorang ayah sekaligus kepala keluarga yang rela mengambil resiko untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, dimana para petani harus menaiki pohon kelapa yang tingginya bisa mencapai belasan bahkan puluhan meter dengan peralatan seadanya dan jaminan keamanan yang tidak ada sama sekali. Tidak sedikit mahasiswa yang orang tuanya bekerja sebagai petani kelapa (kopra) sedang berjuang di bangku universitas sangat bergantung dengan uang hasil dari penjualan kopra sebagai biaya untuk menyelesaikan studi mereka. Dari hal tersebut bisa kita lihat seberapa pentingnya buah kelapa atau kopra sebagai mata pencarian utama masyarakat Sulawesi Utara, namun pada tahun ini 2018 krisis melanda para petani kelapa di Sulawesi utara dimana harga kopra terjadi penurunan yang cukup signifikan.

Krisis seperti ini juga pernah terjadi pada tahun 2000-2001 namun dampak yang ditimbulkan ditahun ini lebih parah dikarenakan harga kebutuhan pokok yang tinggi tidak sesuai dengan harga jual kopra yang rendah. Penyebab anjloknya harga kopra ini diperkirakan karena turunnya permintaan Crude Palm Oil (CPO). Penurunan harga CPO ini kemudian ditambah dengan melonjaknya produksi CPO dari negara produsen, selain itu meningkat atau naiknya kuantitas kopra sebagai bahan produksi tidak lagi sesuai dengan permintaan pabrik, jadi ketika nilai bahan produksi (kopra) itu banyak tapi jumlah permintaan produksi itu menurun maka tidak ada keseimbangan antara permintaan dan produksi. Contohnya pabrik membutuhkan kopra sebanyak 3000 ton untuk membuat minyak kelapa sebanyak 3000 liter sesuai permintaan. Namun, kopra yang masuk yakni 7000 ton melebihi permintaan, oleh karena itu harga kopra menjadi turun. Hal ini sesuai dengan prinsip ekonomi yaitu ketika barang sedikit dan kebutuhan akan barang itu tinggi maka nilai barang tersebut tentunya akan naik, tapi jika barang tersebut banyak namun kebutuhan atau permintaan akan barang itu sedikit maka nilai barang tersebut akan menurun.

Ditengah krisis yang turut dirasakan oleh petani kelapa (kopra) Sulawesi Utara, mengingat kita akan memasuki bulan Desember, para petani kelapa (kopra) khususnya yang akan merayakan natal di perhadapkan dengan kebutuhan yang tinggi untuk dapat merayakan natal. Oleh karena itu, untuk membantu para petani mencukupi kebutuhan tersebut maka penulis memberikan alternatif  untuk menanggulangi krisis turunya harga kopra bagi petani kelapa (kopra) yakni Pertama, meproduksi minyak kelapa sendiri kemudian menjualnya. Seperti yang kita ketahui bahwa kelapa yang dibuat menjadi kopra itu diekspor kemudian kita menggunakan kelapa sawit sebagai minyak goreng yang kita konsumsi sehari-hari.

Jika dicium dari aromanya, minyak goreng yang terbuat dari kelapa lebih harum dibandingkan yang terbuat dari kelapa sawit sehingga akan membuat aroma masakkan menjadi lebih enak dan memikat. Kenyataannya jika kita membuat minyak goreng lewat kelapa maka nilai jual lebih tinggi dibandingkan nilai jual kopra yang saat ini sedang turun. Kedua, perlu diketahui bahwa pohon kelapa dari pohon, daun sampai pada akar semua memiliki nilai ekonomi, tergantung bagaimana kita mengelolahnya. Ditengah krisis turunya harga kopra maka petani kelapa bisa menggunakan daun kelapa untuk membuat sapu lidi atau menjual daunnya yang telah dibuat menjadi ketupat karena pada saat ini banyak orang yang menginginkan kepraktisan sehingga daun ketupat bisa menjadi salah satu produk untuk dijual kepada konsumen dan konsumen hanya perlu memasukkan beras pulo tanpa perlu repot-repot membuat ketupat.

Pohon kelapa yang buahnya sudah tidak ada atau sudah tidak produktif lagi bisa dibuat kayu bakar dan akar pohon kelapa yang bisa dikelola menjadi sebuah karya seni rupa seperti patung, dan sebagainya. Ketiga, jika menunggu kelapa menjadi tua agar layak dibuat kopra maka memerlukan waktu tiga bulan atau lebih tergantung cuaca, namun untuk kelapa yang buahnya masih muda itu memerlukan waktu lebih cepat. Dengan demikian buah kelapa yang masih muda bisa dijadikan minuman es kelapa muda yang sudah ditambahkan kental manis, sirup maupun gula aren tergantung selerah, karena kita tahu bersama bahwa Indonesia merupakan negara tropis, dengan udara dan matahari yang panas bisa membuat si es kelapa muda ini menjadi incaran masyarakat sebagai pelepas dahaga.

Selain itu, Isi atau daging dari buah kelapa yang masih muda bisa dibuat klapertart dan dijual kepada para turisturis yang sedang menikmati keindahan daerah Sulawesi Utara lewat toko-toko souvenir ataupun ole-ole khas Sulawesi Utara. Daging buah kelapa juga bisa dijadikan santan untuk bahan makanan. Selain itu juga, alternative terakhir adalah memanfaatkan lahan pertanian dengan menanam tanaman jenis lain seperti jagung mengingat jangka waktu panen yang lebih singkat, pala mengingat nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan kopra ditambah kulitnya yang bisa dibuat manisan  pala untuk dijual, dan menanam ubi untuk dibuat keripik serta daunnya bisa dijual sebagai sayur.

 Alternative tersebut diharapkan bisa menjadi cara untuk mendukung petani kelapa (kopra) dalam memenuhi kebutuhan hidupnya maupun keluarga mereka termasuk kebutuhan studi anak mereka sebagai generasi penerus bangsa ditengah krisis ekonomi turunya harga kopra yang turut dirasakan oleh para petani kelapa (kopra) Sulawesi Utara.

Penulis: Verisca Elysabeth Waas

Fakultas  Ekonomi / Akuntansi

Universitas Katolik De La Salle

You must be logged in to post a comment Login