Meredam Hoax dan Kebencian Jelang Pemilahan Umum Dan Pilpres

Filed under: Berita Utama,Nasional |
IMG-20190225-WA0025

Oleh:Inggit Selvira

 

Minahasa:Swamanadonews.com:Hoax atau kabar bohong secara umum bukan hal baru dalam kehidupan kita, hoax telah hadir bahkan saat manusia mulai lahir, dulu kehadiran hoax diperantarai dari mulut ke mulut lewat percakapan sehari-hari, hoax pada saat itu, ada karena kesalahan interpretasi manusia dalam memahami peristiwa. Sedangkan saat ini, di tengah era digitalisasi, hoax berkembang menjadi sesuatu yang seolah sengaja diproduksi, untuk meninggikan sekaligus menjatuhkan satu pihak atau kelompok, melalui perantara media internet hoax berkembang kian pesat dan sulit untuk di kontrol, terlebih memasuki tahun Pemilihan Umum seperti sekarang ini.

Dari mulai hoax mengenai kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI), haisil survei Pemilihan Presiden 2019, sampai dengan identitas keagamaan salah satu kandidat calon presiden, uniknya, meskipun hoax hampir selalu tampil dengan pola yang sama yaitu dengan kalimat-kalimat seru, disertai dengan dalil maupan data yang seolah relevan, hingga penyusunan huruf kapital yang cukup menghebohkan, hoax bisa dengan mudah diterima dan diyakini oleh sebagian masyarakat Indonesia, tanpa mengenal usia, profesi, bahkan latar pendidikannya.

Dikutip dari kompas.com, menurut Laras Sekarasih, PhD, Dosen Psikologi Media dari Universitas Indonesia, salah satu alasan kenapa banyak orang yang mempercayai informasi hoax adalah karena orang memiliki kecenderungan untuk percaya kepada informasi yang sesuai dengan opini atau sikap yang dimilikinya sebagai bentuk peneguhan atau afirmasi.

Tak jarang, hoax pun menjadi salah satu pemicu dari adanya pertikaian antar teman, sahabat, atau bahkan keluarga, pasalnya, informasi yang hadir dalam hoax kerapkali menjadi senjata yang digunakan untuk menembak pemahaman yang bersinggungan, hingga menyulut emosi dan akhirnya saling membenci.

Meskipun media berperan dalam proses penyebaran hoax, namun perlu kita sadari bahwa media hanyalah medium atau alat yang digunakan untuk menyampaikan informasi, hal ini sejalan dengan apa yang pernah dikatakan oleh Heinich (1996) bahwa media adalah saluran komunikasi yang membawa informasi dari sumber informasi untuk disampaikan kepada penerima informasi. Hal ini berarti, yang memiliki peran besar dalam penyebarluasan informasi  adalah pengguna media atau masyarakat itu sendiri.

Disinilah pentingnya membangun kesadaran individu, dengan menerapkan prinsip literasi media atau melakukan disiplin verifikasi sebelum kita menyebarkan suatu berita, saat ini kita memiliki akses yang mudah untuk mendapatkan beragam informasi yang benar, kehadiran media online turut memberikan peran yang signifikan untuk membantu proses pencarian data itu, kita hanya perlu membuka mesin pencari seperti Google, Yahoo, dan lain sebagainya, kemudian mengetikan kata kunci mengenai kebenaran informasi yang kita dapatkan sebelum nya, tanpa menunggu waktu yang lama, beragam informasi yang relevan akan hadir melalui berbagai macam sumber, selanjutnya, kita hanya perlu membacanya dengan seksama.

Dengan demikian, kita juga perlu menyadari bahwa yang lebih penting dari Pemilihan Umum sekaligus Pemilihan Presiden bukanlah siapa yang berhasil menjadi pemimpin, melainkan bagaimana kepemimpinan itu menjadi sebuah wadah untuk membangun indonesia menjadi lebih sejahtera, bermatabat di mata dunia, adil, damai, dan terwujudnya keberlanjutan pembangunan nasional, kita sebagai masyarakat indonesia sudah seyogyanya turut berperan aktif untuk membantu mewujudkan semua itu, salah satu caranya adalah dengan menghargai setiap pendapat, opini, serta keputusan setiap orang.

Ketika kita bisa menghargai pilihan dan keputusan orang lain dalam hal apapun, tanpa memaksanya untuk mengikuti apa yang kita jalani, tanpa memberikan spekulasi negatif mengenai apa yang menjadi pilihannya, kehidupan yang damai menjadi sebuah harapan yang mungkin bisa segera terwujud.(Jimmy)

You must be logged in to post a comment Login